Minggu, 06 Mei 2012

Biodata Erwin Gutawa

                                                                       Biodata tokoh

Nama Lengkap              : Erwin Gutawa 
Tempat Lahir                 : Jakarta 
Tanggal Lahir                 : 16 Mei 1962 
Agama                          : Islam 
Pekerjaan                      : Produser, Komponis, Konduktor, Penata Musik 
Pendidikan                    : Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (1986)
Keluarga Erwin Gutawa
Nama Ayah                   : Gutawa Sumapraja 
Nama Ibu                      : Sariati Kodiat 
Nama Istri                     : Lutfi Andriani 
Nama Anak                   : - Aluna Sagita 
                                      -   Aura Aria

Album Erwin Gutawa   : 

1. Salute to Koes Plus/Bersaudara (2004) 
2. Rockestra (2007)
3. Erwin Gutawa Orchestra dalam A MasterpieceOf Erwin Gutawa (2011)

Ringkasan Biografi Erwin Gutawa

         Erwin Gutawa adalah seorang penata musik, komponis, konduktor, dan pemain bass asal Indonesia.Putra dari pasangan Gutawa Sumapraja dan Sariati Kodiat ini menikah dengan seorang gadis bernama Lutfi Andriani.Mereka di karuniai dua orang anak perempuan, yaitu Aluna Sagita (Gita Gutawa) dan adiknya, Aura Aria (Rara Gutawa). 
          Erwin Gutawa mulai memperoleh pendidikan musik formal dengan mengikuti les piano klasik selama dua tahun, sejak ia masih duduk dibangku kelas 4 SD di Jakarta. Saat kelas 6 SD ia membentuk sebuah band amatir sebagai pemain bass.
           Pria kelahiran Jakarta ini mulai terjun ke industri musik rekaman dan panggung secara profesional pada tahun 1980, sebagai pemain bass dalam grup Transs yang dipimpin oleh Fariz RM. Ketika itu ia masih menjadi pelajar di salah satu SMU di Jakarta. Dalam periode SMU, ia mulai bergaul dengan permainan orkestra untuk musik pop. Ia menjadi pemain bass dalam Orkestra Telerema yang dipimpin oleh Almarhum Bapak Isbandi yang ditayangkan di TVRI. 
        Erwin Gutawa mengawali karir sebagai seorang pemain film pada tahun 1970. Beberapa film yang pernah ia bintangi antara lain: film Sebatang Kara (1973), Jangan Kau Tangisi (1974), Permata Bunda (1974), dan Fajar Menyingsing (1975).
            Setelah selesai kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia pada tahun 1986, bapak dua anak ini sepenuhnya terjun berkarir di dunia musik. Pada tahun 1985 sampai 1993, Erwin Gutawa bergabung dengan band fusion jazz “Karimata” yang merilis lima album. Grup dengan personel Erwin, Candra Darusman (keyboard), Denny TR (gitar), Aminoto Kosin (piano) dan Uce Haryono (drum, lalu digantikan oleh Budhy Haryono)  tersebut bubar pada tahun 1994. 
       Awal Desember, Erwin Gutawa merilis album paling ambisius sepanjang karir bermusiknya, Rockestra, sebuah album studio berisi repertoar rock tanah air dari empat dekade yang diaransemen ulang olehnya dan dihadirkan secara megah dan epik bersama salah satu orkestra terbaik di dunia, London Symphony Orchestra (LSO). Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal mendasari produksi album Rockestra ini. Sinergi ini membentuk rock epik yang simfonik, sekaligus membuktikan instrumentasi oskestra dapat beradaptasi dalam musik rock. 
          Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal menjadi konsep utama dalam album Erwin Gutawa Rockestra.Sebuah konsep yang bisa dibilang unik dan untuk pertama kalinya hadir di Indonesia, sebuah sinergi yang membentuk rock epik yang simfonik sekaligus membuktikan keampuhan instrumentasi oskestra ketika beradaptasi dalam musik rock. 
       Gagasan membuat Rockestra ini datang tak berapa lama stelah Erwin Gutawa menuntaskan konser Erwin Gutawa Salute to Koes Plus/Bersaudara pada 9 Agustus 2005. Setelah banyak memproduksi konser musik megah dan kolosal, kali ini ia merasa tertantang untuk memproduksi sebuah album studio yang memiliki standar rekaman internasional. Idenya tergolong muluk saat itu.Erwin Gutawa ingin album ini tak hanya berhenti sampai rekaman di luar negeri.Ia sangat berambisi untuk menghadirkan orkestrasi tingkat dunia dan penata rekam internasional demi kesempurnaan albumnya. 
         Penafsiran dan interprestasi Erwin Gutawa terhadap rockestra melahirkan kemasan yang berbeda-beda di setiap lagu di album ini.Materi rock diekspresikan secara berlainan, melalui variasi jenis alat musik yang dilibatkan didalam setiap lagunya serta kuantitas atau banyaknya alat musik yang dimainkan disetiap lagu. 
       Kemampuan Erwin Gutawa sudah sangat membukukan prestasi yang mengagumkan, baik di dalam maupun di luar negeri seperti, sukses meraih penghargaan sebagai Arranger Terbaik, Midnight Sun Song Festival di Finlandia, meraih Double Platinum Award, Produser Rekaman Terbaik AMI Award, Penata Musik Terbaik AMI Award, Karya Produksi Kolaborasi Artis Solo Duo/Grup, Produser Terbaik untuk Album garapannya bertajuk Erwin Gutawa Salute to Koes Bersaudara/Plus dan sebagainya. 
       Pada tahun 1993, ia  mendirikan “Erwin Gutawa Orkestra”. Disinilah karir Erwin mulai menanjak, terbukti dari Orkestra ini ia berhasil mendampingi konser–konser besar seperti Konser Ruth Sahanaya from Finlandia to Cafe (1992), Konser Harvey Malaiholo (1992), BASF Award (1993), Konser Krisdayanti (2001), SCTV Award (2001), dan masih banyak lagi konser–konser besar yang pernah ia dan Erwin Gutawa Orkestra pertunjukkan.
Biografi
Erwin Gutawa
Seorang Penata Musik Indonesia
Erwin Gutawa adalah seorang penata musik, komponis, konduktor, dan pemain bass asal Indonesia.Putra dari pasangan Gutawa Sumapraja dan Sariati Kodiat ini menikah dengan seorang gadis bernama Lutfi Andriani.Mereka di karuniai dua orang anak perempuan, yaitu Aluna Sagita (Gita Gutawa) dan adiknya, Aura Aria (Rara Gutawa).
Erwin Gutawa mulai memperoleh pendidikan musik formal dengan mengikuti les piano klasik sejak ia masih duduk dibangku kelas 4 SD di Jakarta.
Mantan ketua paduan suara yang menjelma menjadi salah seorang musisi terbesar negeri ini menelusuri jejak rock dalam dirinya demi merilis proyek album termahal di Indonesia, yaitu Rockestra. Karir musik Erwin Gutawa berawal jauh sebelum ia menyadari bidang ini akan digelutinya lebih dari separuh usia hidupnya kini. Menjadi musisi di awal tahun 1970 setelah direkrut Pranajaya sebagai anggota paduan suara anak-anak Bina Vokalia.Semasa kecil, Erwin Gutawa sering mengisi acara-acara kenegaraan di Istana Presiden RI.
Erwin Gutawa mengawali karir sebagai seorang pemain film pada tahun 1970-an, beberapa film yang pernah ia bintangi antara lain: Sebatang Kara (1973), Jangan Kau Tangisi (1974), Permata Bunda (1974), dan Fajar Menyingsing (1975).
Awal tahun1980semasa remaja,Erwin Gutawa membentuk sebuah band dan meraih gelar Pemain Bass Terbaik dalam kompetisi band antar SMA se-Jakarta. Ia bahkan sempat bergabung dengan Fariz RM dalam grup barunya Transs. Tetapi sayang, Erwin hanya bertahan satu setengah tahun saja.Selain bermain bass, ditahun 1982 ia juga memulai debut arranger untuk album Transisi milik Atiek CB.
Petualangan Erwin Gutawa selanjutnya bergabung dengan Orkes Telerama pimpinan Isbandi atas rekomendasi drummer senior Jimmy Manoppo.Disinilah untuk pertama kalinya Erwin Gutawa terpikat dengan musik orkestra yang kelak dominan mewarnai karir musikalnya.Bapak Isbandi-lah yang memberikan pengalaman pertama membuat aransemen musik untuk lagu yang dibawakan oleh orkestra.Ia harus membuat aransemen lagu Tudung Periuk yang berhasil diselesaikan dalam waktu 10 hari.
Setelah selesai kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia pada tahun 1986, bapak dua anak ini tertarik dengan musik-musik kord miring setelah mendapat sedikit pengetahuan dari Dodo Zakaria. Bosan memainkan lagu orang, Erwin Gutawa bersama Candra Darusman, Aminoto Kosin, Uce Haryono dan Denny TR pada bulan November 1985 membentuk grup jazz fusion Karimata yang merilis lima album dan sempat show di North sea Jazz Festival, Belanda.Namun band tersebut bubar pada tahun 1993.
Awal tahun 1990 Erwin Gutawa ikut mempelopori pembentukan trend orkestra pop di Indonesia. Debutnya sebagai konduktor terjadi di tahun 1992 saat memimpin orkestra untuk acara Citra Pariwara.Pada tahun 1993, dirinya mendirikan “Erwin Gutawa Orkestra”. Disinilah karir Erwin mulai menanjak, terbukti dari Orkestra ini ia berhasil mendampingi konser-konser besar seperti Konser Ruth Sahanaya from Finlandia to Café (1992), Konser Harvey Malaiholo (1992), BASF Award (1993), Konser Krisdayanti (2001), SCTV Award (2001), Konser Chrisye, Siti Nurhaliza, hingga 3 Diva, dan masih banyak lagi.
Belum termasuk album-album dengan pengaruh orkestrasinya seperti Badai Pasti Berlalu, Erwin Gutawa Instrumentalia hingga Salute to Koes Plus/Bersaudara. Sebuah karir musik spektakuler yang boleh jadi tak pernah di duga dirinya atau sang bunda tentunya.
Awal Desember, Erwin Gutawa merilis album paling ambisius sepanjang karir bermusiknya, Rockestra.Sebuah album studio berisi repertoar rock tanah air dari empat dekade yang diaransemen ulang olehnya dan dihadirkan secara megah dan epik bersama salah satu orkestra terbaik di dunia, London Symphony Orchestra (LSO). Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal mendasari produksi album Rockestra ini. Sinergi ini membentuk rock epik yang simfonik, sekaligus membuktikan instrumentasi oskestra dapat beradaptasi dalam musik rock.
Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal menjadi konsep utama dalam album Erwin Gutawa Rockestra.Sebuah konsep yang bisa dibilang unik dan untuk pertama kalinya hadir di Indonesia, sebuah sinergi yang membentuk rock epik yang simfonik sekaligus membuktikan keampuhan instrumentasi orkestra ketika beradaptasi dalam musik rock.
Penafsiran dan interprestasi Erwin Gutawa terhadap rockestra melahirkan kemasan yang berbeda-beda di setiap lagu di album ini.Materi rock diekspresikan secara berlainan, melalui variasi jenis alat musik yang dilibatkan didalam setiap lagunya serta kuantitas atau banyaknya alat musik yang dimainkan disetiap lagu.
Proses produksi selama 10 bulan menjelajah hingga 4 benua, tracking distudio Aluna dan Antasari di Indonesia, pengisian orkestra disalah satu studio terbesar didunia yaitu Abbey Road Studio London (Tempat rekaman The Beattles dan artis serta musisi kelas dunia), mixing di 301 studio Sydney, dan mastering di Sterling Sound studio, New York, USA.
Ini adalah usaha maksimal untuk mendapatkan hasil optimal dalam mengejar standar produksi setara dengan produksi rekaman internasional. Yang menjadi kebanggaan dari album ini adalah keterlibatan London Sympony Orchestra, salah satu orkestra terbaik di dunia, yang mengisi orkestra dalam pembuatan film-film besar seperti Harry Potter, keenam film Star Wars, Lord Of The Ring, Indiana Jones dan sebagainya, juga dalam rekaman album musisi kelas dunia seperti Deep Purple. Di album ini dilibatkan tujuh vokalis papan atas dari negeri ini, penyanyi-penyanyi rock legenda yang karismatik antara lain, Ahmad Albar dan Nicky Astria.
Ada penampilan mengejutkan yang ditunjukkan oleh Pinkan yang selama ini terkenal sebagai penyanyi pop. Penyanyi pop ternyata bisa tampil ngerock dan juga sudah menjadi keharusan untuk mengikut sertakan penyanyi-penyanyi rock dan pop rock yang tengah marak saat ini antara lain, Arman Maulana, Andi/Rif, Roy Boomerang dan Kikan.
Selain itu dengan bangga memperkenalkan bakat-bakat baru dari hasil audisi seperti Ryo Domara dan Yopie Mata. Musisi-musisi berbakat ikut memberikan energy positifnya demi album rockestra ini, diantaranya adalah Pay Bip, Andra Ramadhan, Edi Kemput, Hendri Lamiri, Andi Ayunir dan Wawan. Seluruhnya menyumbangkan talentanya dalam 13 buah lagu dalam riuhnya album rockestra ini.
Ide menggabungkan musik rock dengan orkestra dalam sebuah album studio memang bukan ide baru atau prinsinal. Di tahun 1969, Jon Lord dan Deep Purple pernah merilis album bertajuk Concerto For Group and Orchestra yang 30 tahun kemudian mereka rekam kembali di album berjudul Deep Purple In Concert with the London Symphonic Orchestra. Begitu pula album S&M (Symphony & Metallica – Red) dimana Metallica berkolaburasi dengan San Fransisco Symphony di akhir tahun 1999.Masih banyak lagi proyek serupa lainnya dari band – band rock dunia.Rockestra sendiri sebelumnya pernah menjadi judul konser Erwin Gutawa di Plennary Hall, Jakarta Convention Centre pada 3 November 2000. Saat itu Erwin Gutawa dan EGO (Erwin Gutawa Orchestra) menghadirkan kolaburasi antara rock dan orkestra bersama band – band rock papan atas tanah air seperti Slank, Gigi dan Dewa. Judul konser yang mencatat sukses tersebut lantas digunakan kembali oleh Erwin Gutawa enam tahun berikutnya.Judul yang sederhana namun keren. Orang yang membaca judulnya akan tau apa yang dimaksud dan tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi.
Gagasan membuat Rockestra ini datang tak berapa lama setelah Erwin Gutawa menuntaskan konser Erwin Gutawa Salute to Koes Plus/Bersaudara.Pada 9 Agustus 2005. Setelah banyak memproduksi konser musik megah dan kolosal, kali ini ia merasa tertantang untuk memproduksi sebuah album studio yang memiliki standar rekaman internasional. Idenya tergolong muluk saat itu.Erwin Gutawa ingin album ini tak hanya berhenti sampai rekaman di luar negeri.Ia sangat berambisi untuk menghadirkan orkestrasi tingkat dunia dan penata rekam internasional demi kesempurnaan albumnya.
Proyek Mega-Biaya ini kemudian ia konsultasikan dengan para eksekutif label Sony BMG Music Entertainment Indonesia yang diluar dugaan ternyata sangat mendukung ide gila Erwin Gutawa. Berbekal biaya produksi dari label dan sponsor (tidak sampai satu milyar rupiah) maka dimulailah petualangan Erwin Gutawa episode Rockestra.
Proses awal yang dilakukan Erwin Gutawa adalah melakukan riset dan menyeleksi lagu – lagu rock nasional dari empat dekade yang layak di aransemen ulang dan direkam ke album ini. Ia dibantu kolektor musiklokal dan pengamat musik terkemuka seperti Denny Sakrie dan Denny MR pada proses ini.
Materi lagu rock era 70 (Malaria, Hilangnya Seorang Gadis, Jenuh, Kemarau), era 80 (Kehidupan), era 90 (Rock Bergema, Kuingin, Jangan Ada Angkara) yang dipilih adalah lagu-lagu yang memiliki lirik dengan makna yang luas mengenai kehidupan sosial serta kepedulian terhadap lingkungan.Dan juga materi lagu dari era 2000 (Kasih Tak Sampai, Bendera), dan ditambah dua buah lagu baru (Perang Dengan Hati, Sesal). Mastermind dibalik labum ini tak lain adalah musisi-musisi/arranger terbaik yang dimiliki negeri ini, Erwin Gutawa yang juga bertindak sendiri sebagai produser album rockestra ini.
Kemampuan Erwin Gutawa sudah sangat membukukan prestasi yang mengagumkan baik di dalam maupun diluar negeri seperti, sukses meraih penghargaan sebagai arranger terbaik, Midnight Sun Song Festival di Finlandia, meraih Double Platinum Award, Produser Rekaman Terbaik AMI Award, Penata Musik Terbaik AMI Award, Karya Produksi Kolaborasi Artis Solo Duo/Grup, Produser Terbaik untuk Album garapannya bertajuk Erwin Gutawa Salute to Koes Bersaudara/Plus dan sebagainya. Dalam merealisasikan idealisme ini, Erwin didukung sepenuhnya oleh SONY BMG MUSIC ENTERTAIMENT INDONESIA untuk menggabungkan instrumentasi music rock dengan instrumentasi orchestra didalam album ROCKESTRA.

Beberapa contoh lagu yang pernah di bawakan oleh Erwin Gutawa antara lain:



Andaikan Kau Datang
(Erwin Gutawa Ft. Ruth Sahanaya)
Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan

Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dansayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu

Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini ku akhiri

Why Do You Love Me
(Erwin Gutawa Ft. Rio Febrian)

The time has come
That we must be apart
The memory is still in my mind
But you have gone
And you leave me alone

Reff:
Why do you love me
So sweet and tenderly
I do everything
To make you happy

But now everything
It’s only a dream
A dream that never comes
I only wait
Till true love will come

Album-album Karya Erwin Gutawa:
Salute to Koes Plus/Bersaudara (2004), Rockestra (2007), Erwin Gutawa Orchestra dalam A Masterpiece Of Erwin Gutawa (2011)

Penghargaan:
Penata Musik Terbaik Versi BASF (1989), Penata Musik Terbaik Midnight Sun Song Festival Finlandia (1992), Penata Musik dan Produser Terbaik AMI untuk Album Kala Cinta Menggoda (1997-1998), Penata Musik Terbaik AMI Album Badai Pasti Berlalu (2000), Penata Musik Terbaik AMI Album Instrumentalia (2001), Penata Musik Terbaik AMI Lagu Biarlah Menjadi Kenangan (2001), Penata Musik Terbaik versi Majalah News Musik (2001), Produser Terbaik untuk Album garapannya bertajuk Erwin Gutawa Salute to Koes Bersaudara/Plus (2004), Meraih Double Platinum Award, Produser Rekaman Terbaik AMI Award (2005), Penata Musik Terbaik AMI Award (2005), Karya Produksi Kolaborasi Artis Solo Duo/Group.

Sikap tokoh yang dapat diteladani:
1.      Merupakan sosok guru dan ayah yang baik 
2.      Bersikap profesional 
3.      Percaya diri 
4.      Pantang Menyerah 
5.      Selalu mencoba dan tidak takut gagal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar