Biodata tokoh
Nama Lengkap
: Erwin Gutawa
Tempat
Lahir
: Jakarta
Tanggal Lahir
: 16 Mei 1962
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Produser, Komponis, Konduktor, Penata Musik
Pendidikan
: Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (1986)
Keluarga Erwin Gutawa
Nama
Ayah
: Gutawa Sumapraja
Nama
Ibu
: Sariati Kodiat
Nama
Istri
: Lutfi Andriani
Nama
Anak
: - Aluna Sagita
- Aura Aria
Album Erwin Gutawa :
1. Salute to Koes Plus/Bersaudara (2004)
2. Rockestra (2007)
3. Erwin Gutawa Orchestra dalam A MasterpieceOf Erwin Gutawa (2011)
Ringkasan
Biografi Erwin Gutawa
Erwin Gutawa adalah seorang penata musik, komponis,
konduktor, dan pemain bass asal Indonesia.Putra dari pasangan Gutawa Sumapraja
dan Sariati Kodiat ini menikah dengan seorang gadis bernama Lutfi
Andriani.Mereka di karuniai dua orang anak perempuan, yaitu Aluna Sagita (Gita
Gutawa) dan adiknya, Aura Aria (Rara Gutawa).
Erwin Gutawa mulai memperoleh pendidikan musik formal dengan mengikuti les
piano klasik selama dua tahun, sejak ia masih duduk dibangku kelas 4 SD di
Jakarta. Saat kelas 6 SD ia membentuk sebuah band amatir sebagai pemain bass.
Pria kelahiran Jakarta ini mulai terjun ke industri musik rekaman dan panggung
secara profesional pada tahun 1980, sebagai pemain bass dalam grup Transs yang
dipimpin oleh Fariz RM. Ketika itu ia masih menjadi pelajar di salah satu SMU
di Jakarta. Dalam periode SMU, ia mulai bergaul dengan permainan orkestra untuk
musik pop. Ia menjadi pemain bass dalam Orkestra Telerema yang dipimpin oleh
Almarhum Bapak Isbandi yang ditayangkan di TVRI.
Erwin Gutawa mengawali karir sebagai seorang pemain film pada tahun 1970.
Beberapa film yang pernah ia bintangi antara lain: film Sebatang Kara (1973),
Jangan Kau Tangisi (1974), Permata Bunda (1974), dan Fajar Menyingsing (1975).
Setelah selesai kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas
Indonesia pada tahun 1986, bapak dua anak ini sepenuhnya terjun berkarir di
dunia musik. Pada tahun 1985 sampai 1993, Erwin Gutawa bergabung dengan band
fusion jazz “Karimata” yang merilis lima album. Grup dengan personel Erwin,
Candra Darusman (keyboard), Denny TR (gitar), Aminoto Kosin (piano) dan Uce
Haryono (drum, lalu digantikan oleh Budhy Haryono) tersebut bubar pada
tahun 1994.
Awal Desember, Erwin Gutawa merilis album paling ambisius sepanjang karir
bermusiknya, Rockestra, sebuah album studio berisi repertoar rock tanah air
dari empat dekade yang diaransemen ulang olehnya dan dihadirkan secara megah
dan epik bersama salah satu orkestra terbaik di dunia, London Symphony
Orchestra (LSO). Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal
mendasari produksi album Rockestra ini. Sinergi ini membentuk rock epik yang
simfonik, sekaligus membuktikan instrumentasi oskestra dapat beradaptasi dalam
musik rock.
Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal menjadi konsep utama
dalam album Erwin Gutawa Rockestra.Sebuah konsep yang bisa dibilang unik dan
untuk pertama kalinya hadir di Indonesia, sebuah sinergi yang membentuk rock
epik yang simfonik sekaligus membuktikan keampuhan instrumentasi oskestra
ketika beradaptasi dalam musik rock.
Gagasan membuat Rockestra ini datang tak berapa lama stelah Erwin Gutawa
menuntaskan konser Erwin Gutawa Salute to Koes Plus/Bersaudara pada 9 Agustus
2005. Setelah banyak memproduksi konser musik megah dan kolosal, kali ini ia
merasa tertantang untuk memproduksi sebuah album studio yang memiliki standar
rekaman internasional. Idenya tergolong muluk saat itu.Erwin Gutawa ingin album
ini tak hanya berhenti sampai rekaman di luar negeri.Ia sangat berambisi untuk
menghadirkan orkestrasi tingkat dunia dan penata rekam internasional demi
kesempurnaan albumnya.
Penafsiran dan interprestasi Erwin Gutawa terhadap rockestra melahirkan kemasan
yang berbeda-beda di setiap lagu di album ini.Materi rock diekspresikan secara
berlainan, melalui variasi jenis alat musik yang dilibatkan didalam setiap
lagunya serta kuantitas atau banyaknya alat musik yang dimainkan disetiap
lagu.
Kemampuan Erwin Gutawa sudah sangat membukukan prestasi yang mengagumkan, baik
di dalam maupun di luar negeri seperti, sukses meraih penghargaan sebagai
Arranger Terbaik, Midnight Sun Song Festival di Finlandia, meraih Double
Platinum Award, Produser Rekaman Terbaik AMI Award, Penata Musik Terbaik AMI
Award, Karya Produksi Kolaborasi Artis Solo Duo/Grup, Produser Terbaik untuk
Album garapannya bertajuk Erwin Gutawa Salute to Koes Bersaudara/Plus dan
sebagainya.
Pada tahun 1993, ia mendirikan “Erwin Gutawa Orkestra”. Disinilah karir
Erwin mulai menanjak, terbukti dari Orkestra ini ia berhasil mendampingi
konser–konser besar seperti Konser Ruth Sahanaya from Finlandia
to Cafe (1992), Konser Harvey Malaiholo (1992), BASF Award (1993), Konser
Krisdayanti (2001), SCTV Award (2001), dan masih banyak lagi konser–konser
besar yang pernah ia dan Erwin Gutawa Orkestra pertunjukkan.
Biografi
Erwin Gutawa
Seorang Penata Musik
Indonesia
Erwin
Gutawa adalah seorang penata musik, komponis, konduktor, dan pemain bass asal
Indonesia.Putra dari pasangan Gutawa Sumapraja dan Sariati Kodiat ini menikah
dengan seorang gadis bernama Lutfi Andriani.Mereka di karuniai dua orang anak
perempuan, yaitu Aluna Sagita (Gita Gutawa) dan adiknya, Aura Aria (Rara
Gutawa).
Erwin
Gutawa mulai memperoleh pendidikan musik formal dengan mengikuti les piano
klasik sejak ia masih duduk dibangku kelas 4 SD di Jakarta.
Mantan
ketua paduan suara yang menjelma menjadi salah seorang musisi terbesar negeri
ini menelusuri jejak rock dalam dirinya demi merilis proyek album termahal di
Indonesia, yaitu Rockestra. Karir musik Erwin Gutawa berawal jauh sebelum ia
menyadari bidang ini akan digelutinya lebih dari separuh usia hidupnya kini.
Menjadi musisi di awal tahun 1970 setelah direkrut Pranajaya sebagai anggota
paduan suara anak-anak Bina Vokalia.Semasa kecil, Erwin Gutawa sering mengisi
acara-acara kenegaraan di Istana Presiden RI.
Erwin
Gutawa mengawali karir sebagai seorang pemain film pada tahun 1970-an, beberapa
film yang pernah ia bintangi antara lain: Sebatang Kara (1973), Jangan Kau
Tangisi (1974), Permata Bunda (1974), dan Fajar Menyingsing (1975).
Awal tahun1980semasa
remaja,Erwin Gutawa membentuk sebuah band dan meraih gelar Pemain Bass Terbaik
dalam kompetisi band antar SMA se-Jakarta. Ia bahkan sempat bergabung dengan
Fariz RM dalam grup barunya Transs. Tetapi sayang, Erwin hanya bertahan satu
setengah tahun saja.Selain bermain bass, ditahun 1982 ia juga memulai debut
arranger untuk album Transisi milik Atiek CB.
Petualangan
Erwin Gutawa selanjutnya bergabung dengan Orkes Telerama pimpinan Isbandi atas
rekomendasi drummer senior Jimmy Manoppo.Disinilah untuk pertama kalinya Erwin
Gutawa terpikat dengan musik orkestra yang kelak dominan mewarnai karir
musikalnya.Bapak Isbandi-lah yang memberikan pengalaman pertama membuat
aransemen musik untuk lagu yang dibawakan oleh orkestra.Ia harus membuat
aransemen lagu Tudung Periuk yang berhasil diselesaikan dalam waktu 10 hari.
Setelah
selesai kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia
pada tahun 1986, bapak dua anak ini tertarik dengan musik-musik kord miring
setelah mendapat sedikit pengetahuan dari Dodo Zakaria. Bosan memainkan lagu
orang, Erwin Gutawa bersama Candra Darusman, Aminoto Kosin, Uce Haryono dan
Denny TR pada bulan November 1985 membentuk grup jazz fusion Karimata yang
merilis lima album dan sempat show di North sea Jazz Festival, Belanda.Namun
band tersebut bubar pada tahun 1993.
Awal
tahun 1990 Erwin Gutawa ikut mempelopori pembentukan trend orkestra pop di
Indonesia. Debutnya sebagai konduktor terjadi di tahun 1992 saat memimpin
orkestra untuk acara Citra Pariwara.Pada tahun 1993, dirinya mendirikan “Erwin
Gutawa Orkestra”. Disinilah karir Erwin mulai menanjak, terbukti dari Orkestra
ini ia berhasil mendampingi konser-konser besar seperti Konser Ruth Sahanaya
from Finlandia to Café (1992), Konser Harvey Malaiholo (1992), BASF Award
(1993), Konser Krisdayanti (2001), SCTV Award (2001), Konser Chrisye, Siti
Nurhaliza, hingga 3 Diva, dan masih banyak lagi.
Belum
termasuk album-album dengan pengaruh orkestrasinya seperti Badai Pasti Berlalu,
Erwin Gutawa Instrumentalia hingga Salute to Koes Plus/Bersaudara. Sebuah karir
musik spektakuler yang boleh jadi tak pernah di duga dirinya atau sang bunda
tentunya.
Awal
Desember, Erwin Gutawa merilis album paling ambisius sepanjang karir
bermusiknya, Rockestra.Sebuah album studio berisi repertoar rock tanah air dari
empat dekade yang diaransemen ulang olehnya dan dihadirkan secara megah dan
epik bersama salah satu orkestra terbaik di dunia, London Symphony Orchestra
(LSO). Rock yang ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal mendasari produksi
album Rockestra ini. Sinergi ini membentuk rock epik yang simfonik, sekaligus
membuktikan instrumentasi oskestra dapat beradaptasi dalam musik rock.
Rock yang
ekspresif dan orkestra yang megah serta kolosal menjadi konsep utama dalam
album Erwin Gutawa Rockestra.Sebuah konsep yang bisa dibilang unik dan untuk
pertama kalinya hadir di Indonesia, sebuah sinergi yang membentuk rock epik
yang simfonik sekaligus membuktikan keampuhan instrumentasi orkestra ketika
beradaptasi dalam musik rock.
Penafsiran
dan interprestasi Erwin Gutawa terhadap rockestra melahirkan kemasan yang
berbeda-beda di setiap lagu di album ini.Materi rock diekspresikan secara
berlainan, melalui variasi jenis alat musik yang dilibatkan didalam setiap
lagunya serta kuantitas atau banyaknya alat musik yang dimainkan disetiap lagu.
Proses
produksi selama 10 bulan menjelajah hingga 4 benua, tracking distudio Aluna dan
Antasari di Indonesia, pengisian orkestra disalah satu studio terbesar didunia
yaitu Abbey Road Studio London (Tempat rekaman The Beattles dan artis serta
musisi kelas dunia), mixing di 301 studio Sydney, dan mastering di Sterling
Sound studio, New York, USA.
Ini
adalah usaha maksimal untuk mendapatkan hasil optimal dalam mengejar standar
produksi setara dengan produksi rekaman internasional. Yang menjadi kebanggaan
dari album ini adalah keterlibatan London Sympony Orchestra, salah satu
orkestra terbaik di dunia, yang mengisi orkestra dalam pembuatan film-film
besar seperti Harry Potter, keenam film Star Wars, Lord Of The Ring, Indiana
Jones dan sebagainya, juga dalam rekaman album musisi kelas dunia seperti Deep
Purple. Di album ini dilibatkan tujuh vokalis papan atas dari negeri ini,
penyanyi-penyanyi rock legenda yang karismatik antara lain, Ahmad Albar dan
Nicky Astria.
Ada
penampilan mengejutkan yang ditunjukkan oleh Pinkan yang selama ini terkenal
sebagai penyanyi pop. Penyanyi pop ternyata bisa tampil ngerock dan juga sudah
menjadi keharusan untuk mengikut sertakan penyanyi-penyanyi rock dan pop rock
yang tengah marak saat ini antara lain, Arman Maulana, Andi/Rif, Roy Boomerang
dan Kikan.
Selain
itu dengan bangga memperkenalkan bakat-bakat baru dari hasil audisi seperti Ryo
Domara dan Yopie Mata. Musisi-musisi berbakat ikut memberikan energy positifnya
demi album rockestra ini, diantaranya adalah Pay Bip, Andra Ramadhan, Edi
Kemput, Hendri Lamiri, Andi Ayunir dan Wawan. Seluruhnya menyumbangkan
talentanya dalam 13 buah lagu dalam riuhnya album rockestra ini.
Ide
menggabungkan musik rock dengan orkestra dalam sebuah album studio memang bukan
ide baru atau prinsinal. Di tahun 1969, Jon Lord dan Deep Purple pernah merilis
album bertajuk Concerto For Group and Orchestra yang 30 tahun kemudian mereka
rekam kembali di album berjudul Deep Purple In Concert with the London Symphonic
Orchestra. Begitu pula album S&M (Symphony & Metallica – Red) dimana
Metallica berkolaburasi dengan San Fransisco Symphony di akhir tahun 1999.Masih
banyak lagi proyek serupa lainnya dari band – band rock dunia.Rockestra sendiri
sebelumnya pernah menjadi judul konser Erwin Gutawa di Plennary Hall, Jakarta
Convention Centre pada 3 November 2000. Saat itu Erwin Gutawa dan EGO (Erwin
Gutawa Orchestra) menghadirkan kolaburasi antara rock dan orkestra bersama band
– band rock papan atas tanah air seperti Slank, Gigi dan Dewa. Judul konser
yang mencatat sukses tersebut lantas digunakan kembali oleh Erwin Gutawa enam
tahun berikutnya.Judul yang sederhana namun keren. Orang yang membaca judulnya
akan tau apa yang dimaksud dan tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi.
Gagasan
membuat Rockestra ini datang tak berapa lama setelah Erwin Gutawa menuntaskan
konser Erwin Gutawa Salute to Koes Plus/Bersaudara.Pada 9 Agustus 2005. Setelah
banyak memproduksi konser musik megah dan kolosal, kali ini ia merasa
tertantang untuk memproduksi sebuah album studio yang memiliki standar rekaman
internasional. Idenya tergolong muluk saat itu.Erwin Gutawa ingin album ini tak
hanya berhenti sampai rekaman di luar negeri.Ia sangat berambisi untuk
menghadirkan orkestrasi tingkat dunia dan penata rekam internasional demi
kesempurnaan albumnya.
Proyek
Mega-Biaya ini kemudian ia konsultasikan dengan para eksekutif label Sony BMG
Music Entertainment Indonesia yang diluar dugaan ternyata sangat mendukung ide
gila Erwin Gutawa. Berbekal biaya produksi dari label dan sponsor (tidak sampai
satu milyar rupiah) maka dimulailah petualangan Erwin Gutawa episode Rockestra.
Proses
awal yang dilakukan Erwin Gutawa adalah melakukan riset dan menyeleksi lagu –
lagu rock nasional dari empat dekade yang layak di aransemen ulang dan direkam
ke album ini. Ia dibantu kolektor musiklokal dan pengamat musik terkemuka
seperti Denny Sakrie dan Denny MR pada proses ini.
Materi
lagu rock era 70 (Malaria, Hilangnya Seorang Gadis, Jenuh, Kemarau), era 80
(Kehidupan), era 90 (Rock Bergema, Kuingin, Jangan Ada Angkara) yang dipilih
adalah lagu-lagu yang memiliki lirik dengan makna yang luas mengenai kehidupan
sosial serta kepedulian terhadap lingkungan.Dan juga materi lagu dari era 2000
(Kasih Tak Sampai, Bendera), dan ditambah dua buah lagu baru (Perang Dengan
Hati, Sesal). Mastermind dibalik labum ini tak lain adalah
musisi-musisi/arranger terbaik yang dimiliki negeri ini, Erwin Gutawa yang juga
bertindak sendiri sebagai produser album rockestra ini.
Kemampuan
Erwin Gutawa sudah sangat membukukan prestasi yang mengagumkan baik di dalam
maupun diluar negeri seperti, sukses meraih penghargaan sebagai arranger
terbaik, Midnight Sun Song Festival di Finlandia, meraih Double Platinum Award,
Produser Rekaman Terbaik AMI Award, Penata Musik Terbaik AMI Award, Karya
Produksi Kolaborasi Artis Solo Duo/Grup, Produser Terbaik untuk Album
garapannya bertajuk Erwin Gutawa Salute to Koes Bersaudara/Plus dan sebagainya.
Dalam merealisasikan idealisme ini, Erwin didukung sepenuhnya oleh SONY BMG
MUSIC ENTERTAIMENT INDONESIA untuk menggabungkan instrumentasi music rock
dengan instrumentasi orchestra didalam album ROCKESTRA.
Beberapa contoh lagu yang
pernah di bawakan oleh Erwin Gutawa antara lain:
Andaikan Kau Datang
(Erwin Gutawa Ft. Ruth
Sahanaya)
Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dansayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku
beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi
Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya
Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini ku akhiri
Why Do You Love Me
(Erwin Gutawa Ft. Rio
Febrian)
The time has come
That we must be apart
The memory is still in my
mind
But you have gone
And you leave me alone
Reff:
Why do you love me
So sweet and tenderly
I do everything
To make you happy
But now everything
It’s only a dream
A dream that never comes
I only wait
Till true love will come
Album-album Karya Erwin Gutawa:
Salute to Koes Plus/Bersaudara (2004), Rockestra (2007), Erwin Gutawa
Orchestra dalam A Masterpiece Of Erwin Gutawa (2011)
Penghargaan:
Penata Musik Terbaik Versi BASF (1989), Penata Musik Terbaik Midnight
Sun Song Festival Finlandia (1992), Penata Musik dan Produser Terbaik AMI untuk
Album Kala Cinta Menggoda (1997-1998), Penata Musik Terbaik AMI Album Badai
Pasti Berlalu (2000), Penata Musik Terbaik AMI Album Instrumentalia (2001),
Penata Musik Terbaik AMI Lagu Biarlah Menjadi Kenangan (2001), Penata Musik
Terbaik versi Majalah News Musik (2001), Produser Terbaik untuk Album
garapannya bertajuk Erwin Gutawa Salute to Koes Bersaudara/Plus (2004), Meraih
Double Platinum Award, Produser Rekaman Terbaik AMI Award (2005), Penata Musik
Terbaik AMI Award (2005), Karya Produksi Kolaborasi Artis Solo Duo/Group.
Sikap tokoh yang dapat diteladani:
1.
Merupakan sosok guru dan ayah yang baik
2.
Bersikap profesional
3.
Percaya diri
4.
Pantang Menyerah
5.
Selalu mencoba dan tidak takut gagal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar